Selasa, 20 November 2012

MAKALAH KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN



Di susun oleh:

1.     Dhesi Asriani       
2.     Dwi Fatmawati    
3.     Endarwati             
4.     Fatah Suyatmojo  
5.     Rendi Prima N    


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manajemen dalam bahasa inggris berarti mengelola atau mengatur. Dalam Fattah (2006: 1), manajemen diartikan sebagai ilmu, kiat, dan profesi. Manajemen sebagai ilmu merupakan bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Manajemen sebagai kiat seperti pernyataan Follet merupakan hal yang dapat mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain dalam menjalankan tugas. Manajemen sebagai profesi menjelaskan adanya landasan keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer dan para profesional dengan dituntun oleh sebuah kode etik.
Manajemen merupakan suatu sistem yang setiap komponennya menampilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan. Manajemen sebagai sistem memiliki fungsi-fungsi pokok yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling).
Manajemen dalam pendidikan menurut Djam’an Satori dalam Sudarmiani (2009: 2) diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Manajemen memiliki pengaruh bagi seseorang/sekelompok orang untuk bertindak. Sama halnya dengan manajemen, kepemimpinan pun memiliki pengaruh bagi seseorang /sekelompok orang untuk bertindak. Manajemen merupakan suatu proses menyelesaikan aktivitas secara efisien dengan atau melalui orang lain dan berkaitan dengan rutinitas tugas suatu organisasi, sedangkan kepemimpinan muncul jika ada upaya mempengaruhi seorang individu/kelompok dan berhubungan dengan perubahan. Menurut Danim (2008: 3) pemimpin dipandang sebagai inti dari manajemen dan perilaku kepemimpinan merupakan inti perilaku manajemen. Inti dari kepemimpinan adalah pembuatan keputusan termasuk keputusan untuk tidak memutuskan. Kepemimpinan akan berjalan jika ada keputusan yang akan dijalankan, demikian juga manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan dapat mencapai tujuan jika dijalankan oleh seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan.
Para pimpinan akan dilimpahi kewenangan untuk menggerakkan dan mengendalikan orang-orang disekitarnya untuk mencapai tujuan tertentu. Maka dengan kekuasaan yang diberikan pada seorang pemimpin menjadi sangat penting. Seorang pemimpin sebagai individu akan berhadapan dengan sejumlah individu lain yang berbeda-beda kepribadian, watak, dan karakternya. Dalam keadaan yang demikian itu, maka pemimpin harus memahami, menghargai, dan berusaha untuk menyatukan kepribadian yang berbeda-beda, termasuk juga kepribadian yang ia miliki untuk bisa berada dalam satu usaha bersama demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Maka sebenarnya kepemimpinan menunjukkan keadaan yang sangat kompleks karena kepemimpinan tidak hanya berkenaan urusan individu saja tetapi berkenaan pula dengan urusan orang bannyak (sosial).
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai kepemimpinan dalam manajemen; perbedaan kepemimpinan dan manajer yang sering disamakan dalam perspektif masyarakat luas; kekuasaan, kewenangan dan gaya kepemimipinan; peran kepala sekolah sebagai pemimpin dan manajer pendidikan; serta kepemimpinan kepala sekolah yang efektif.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang dapat dirumuskan adalah:
1.    Bagaimana pengertian kepemimpinan dalam manajemen dan apa perbedaan kepemimpinan dengan manajer?
2.    Bagaimana keterkaitan administrasi, organisasi, manajemen, dan kepemimpinan?
3.    Bagaimana kekuasaan, kewenangan, dan gaya kepemimpinan dalam manajemen pendidikan?
4.    Bagaimana peran kepala sekolah sebagai pemimpin dan manajer pendidikan yang efektif?

C.     Tujuan
Berdasarkan masalah-masalah yang dirumuskan, tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan dalam manajemen dan perbedaan antara kepemimpinan dengan manajer
2.      Untuk mengetahui keterkaitan administrasi, organisasi, manajemen, dan kepemimpinan
3.      Untuk mengetahui kekuasaan, kewenangan, dan gaya kepemimpinan dalam manajemen pendidikan
4.      Untuk mengetahui peran kepala sekolah sebagai pemimpin dan manajer pendidikan yang efektif.
D.    Manfaat
Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.     Bagi Penulis
Sebagai bahan acuan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam manajemen pendidikan.
2.     Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan kepemimpinan yang efektif dalam manajemen pendidikan. 
 

  
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Kepemimpinan
Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan menurut istilah pemimpin adalah orang yang mempunyai wewenang dalam pengambilan keputusan suatu organisasi. Menurut Hikmat (2009: 249), kepemimpinan adalah proses pelaksanaan tugas dan kewajiban individu. Kepemimpinan merupakan sifat dari pemimpin dalam memikul tanggung jawabnya secara moral dan legal formal atas seluruh pelaksanaan wewenangnya yang telah didelegasikan kepada orang-orang yang dipimpinnya. Owen dalam Sudarmiani (2009: 33) menyimpulkan kepemimpinan sebagai fungsi kelompok non individu, terjadi dalam interaksi dua orang atau lebih, dimana seseorang menggerakkan yang lain untuk berpikir dan berbuat sesuai yang diinginkan.
Menurut Hikmat (2009: 11)Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lainnya dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan orang yang memimpin organisasi disebut manager.
Perbedaan kepemimpinan dengan manajer
Manager
Leadership
1.    Building and maintaining an organizational structure (membangun dan mengembangkan struktur organisasi)
Building and maintaining an organizational culture (membangun dan mengembangkan kultur organisasi)
2.    Path- following (merujuk pada alur kepengikutan)
Path- finding (merujuk pada alur penemuan)
3.    Doing thing right (mengerjakan sesuatu yang benar)
Doing the right thing (mengerjakan sesuatu dengan benar)
4.    The manager maintains, relies and control (mengedepankan pemeliharaan dan pengendalian)
The leader develops, inspires trust (mengembangkan dan menginspirasi kepercayaan)
5.    A preoccupation with the here-and-now of goal attainment (beranjak dengan “disini dan sekarang” dari pencapaian tujuan)
Focused on the creation of a vision about a desired future state (berfokus pada upaya mengkreasi tentang masa depan yang diinginkan)
6.    Managers maintain a low level of emotional involvement (memelihara level rendah keterlibatan emosional)
Leaders have empathy with other people and give attention to what event and action means (mempunyai empati terhadap orang lain dan memberi perhatian pada setiap peristiwa dan makna tindakan)
7.    Designing and carry out plant, getting things done, working effectively with people (mendesain dan membawa rencana, mendorong tindakan, dan bekerja efektif dengan orang)
Establishing a mission, giving a sense of direction (memantapkan misi dan membangkitkan rasa untuk mencapai arah tertentu)
8.    Being taught by the organization (mengembangkan pikiran dari organisasi)
Learning from the organization (belajar dari organisasi)
Sumber: Stoner, Freeman, Gilbert dalam Danim (2008: 4-5)

B.   Keterkaitan Administrasi, Organisasi, Manajemen, dan Kepemimpinan
Organisasi memiliki dua pengertian umum, pertama organisasi diartikan sebagai suatu lembaga/kelompok fungsional, misal: sekolah, perusahaan, dan badan-badan pemerintahan. Kedua merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota dengan mempertimbangkan kemampuan mereka, mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. (Fattah, 2006: 71).
Secara etimologis, kata administrasi berasal dari bahasa yunani, ad ministrare. Ad berarti ke/kepada. Ministrare berarti melayani, membantu, atau mengarahkan (Malawi, 2010: 31). Administrasi dalam arti sempit adalah bersifat teknis ketatausahaan. Sedangkan dalam arti luas, administrasi adalah suatu proses yang ditujukan terhadap penentuan tujuan pokok dan kebijaksanaannya, dimana organisasi dan manajemen digariskan (Sudarmiani, 2009: 35).
Sedangkan manajemen sendiri merupakan suatu sistem yang setiap komponennya dikelola untuk mencapai sebuah tujuan.
Hubungan Organisasi, Administrasi, dan Manajemen dapat digambarkan sebagai berikut:




 

Gambar diatas menunjukkan bagaimana hubungan antara organisasi, administrasi, dan manajemen. Organisasi sebagai kelompok orang yang mengikatkan diri secara formal adalah wadah yang menampung kelompok manusia. Didalam kelompok, manusia melakukan administrasi dalam bentuk kerja sama. Dan di dalam administrasi terjadi proses pengaturan. Proses pengaturan inilah disebut dengan manajemen. Manajemen yang ada didalam organisasi biasanya bertingkat dari yang terdepan sampai yang tertinggi.
Jika disekolah adalah sebuah organisasi, maka didalam sekolah terjadi kegiatan kerja sama administrasi untuk mencapai tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan, kerja sama yang ada harus diatur sehingga semua sumber daya pendidikan bersifat harmonis, dan sinergis. Untuk itu dilakukan kegiatan pengaturan manajemen. Kepala sekolah sebagai manajer tertinggi bertugas menentukan strategi dalam mencapai tujuan pendidikan. Strategi yang ada diterjemahkan menjadi program kerja oleh semua wakil kepala sekolah sebagai manajer madya. Pelaksanaan program kerja dilakukan oleh guru dan segenap pegawai tata usaha dengan pengawasan guru senior yang ditunjuk sebagai pengawas pelaksanaan. Dengan demikian tercipta sebuah sistem organisasi yang terus bergerak mencapai tujuan. Demikianlah hubungan antara organisasi, administrasi, dan manajemen (diunduh dari www.sarjanaku.com/2010/01/makalah-konsep-organisasi-administrasi.html).

C.   Kekuasaan, Kewenangan dan Gaya kepemimpinan
  •  Kekuasaan
Kekuasaan dalam arti yang sebenarnya adalah kekuatan untuk mengendalikan orang lain sehingga orang lain sama sekali tidak punya pilihan, karena tidak berdaya untuk menentukan diri sendiri atau tidak mengetahui bagaimana memperoleh sumber daya yang mereka perlukan (Fattah, 2006: 76). Pelopor pertama yang mempergunakan istilah kekuasaan adalah sosiolog kenamaan Max Weber. Dia merumuskan kekuasaan itu sebagai suatu kemungkinan yang membuat seorang aktor dalam hubungan sosial berada dalam suatu jabatan untuk melaksanakan keinginannya sendiri dan yang menghilangkan halangan.
Walterd Nord merumuskan kekuasaan sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi aliran energi dan dana yang tersedia untuk mencapai suatu tujuan yang berbeda secara jelas dan tujuan lainnya. Sedangkan Russel mengartikan kekuasaan sebagai suatu produksi dan akibat yang diinginkan. Bierstedt mengatakan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempergunakan kekuatan. Dahl mengatakan bahwa jika A mempunyai kekuasaan atas B, maka A bisa meminta B untuk melaksanakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh B terhadap A (Sudarmiani, 2009: 37-38).
Menurut Edgar H. Schein dalam Fattah (2006: 76-77) kekuasaan tidak hanya diperoleh semata-mata dari tingkatan seseorang dalam hierarki organisasi, tapi bersumber dari bermacam-macam jenis psikologis kekuasaan yaitu:
1.      Kekuasaan yang memaksa, didasarkan pada kemampuan memberi pengaruh untuk menghukum penerima pengaruh kalau tidak memenuhi permintaan.
2.      Kekuasaan imbalan, didasarkan pada kemampuan untuk memberi imbalan pada orang lain. Makin besar kekuasaan imbalan, makin besar pengaruh yang memberi perintah.
3.      Kekuasaan jabatan, berhubungan dengan hak kelembagaan, terjadi apabila bawahan menerima pengaruh mengakui bahwa atasan secara sah berhak untuk memerintah atau memberi pengaruh dalam batas-batas tertentu.
4.      Kekuasaan ahli, didasarkan pada keyakinan bahwa pemberi pengaruh mempunyai keahlian yang relevan dan tidak dimiliki oleh penerima pengaruh.
5.      Kekuasaan acuan, berpijak pada keinginan penerima pengaruh untuk meniru pemberi pengaruh.
6.      Kekuasaan pribadi, berpijak pada kualitas pribadi yang memberi pengaruh dan mendapat tanggapan emosional yang sangat besar dari pengikut.
Sedangkan menurut Hersey dan Goldsmith dalam Sudarmiani (2009: 40-41) ada tujuh kekuasaan yaitu:
1.      Kekuasaan paksaan adalah kekuasaan berdasarkan rasa takut. Pemimpin memiliki kemampuan untuk mengenakan hukuman/pemecatan.
2.      Kekuasaan legitimasi adalah kekuasaan yang bersumber pada jabatan yang dipegang oleh seorang pemimpin. Secara normal, semakin tinggi posisi seorang pemimpin, semakin besar kekuasaan legitimasinya.
3.      Kekuasaan keahlian adalah kekuasaan yang bersumber dari keahlian , kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang diwujudkan lewat rasa hormat, dan pengaruhnya terhadap orang lain.
4.      Kekuasaan penghargaan adalah kekuasaan yang bersumber dari kemampuan untuk menyediakan penghargaan atau hadiah bagi orang lain.
5.      Kekuasaan referensi adalah kekuasaan yang bersumber pada sifat-sifat pribadi dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang tinggi kekuasaan referensinya, pada umumnya disenangi dan dikagumi orang lain karena kepribadiannya.
6.      Kekuasaan informasi adalah kekuasaan yang bersumber karena adanya akses informasi yang dimiliki oleh pemimpin yang dinilai sangat berharga oleh pengikutnya.
 7.Kekuasaan hubungan adalah kekuasaan yang bersumber pada hubungan yang dijalin oleh pimpinan dengan orang-orang penting dan berpengaruh baik diluar dan didalam organisasi.
  • Kewenangan
Wewenang sering dikatakan otorita. Otorita adalah hak yang dimiliki pimpinan atau pejabat tertentu untuk mengambil keputusan, melakukan tindakan atau meninggalkan suatu tindakan (Hikmat, 2009: 265). Sedangkan menurut Newman dalam Fattah (2006: 75) wewenang merupakan hak kelembagaan menggunakan kekuasaan dan wewenang dibedakan menjadi:
1.      Wewenang hukum, yaitu wewenang yang dimiliki seseorang untuk menegakkan hukum, mewakili dan bertindak atas nama organisasi
2.      Wewenang teknis, yaitu seseorang dianggap pakar pada suatu hal
3.      Wewenang berkuasa, yaitu sumber utama yang berhak melakukan tindakan
4.      Wewenang operasional, yaitu seseorang diperbolehkan melakukan tindakan tertentu.
Menurut Max Weber, ada tiga tipe dasar kewenangan/otoritas resmi yaitu:
1.      Otoritas legal, rasional
Otoritas ini menyangkut keyakinan akan legalitas pola aturan baku dan hak mereka yang tinggi untuk kewenangan sesuai aturan pemerintah. Otoritas dipegang oleh perintah impersonal secara hukum dan meluas ke orang dengan berdasarkan kantor mereka pegang. Kekuatan pejabat pemerintah ditentukan oleh kantor-kantor yang mereka ditunjuk atau dipilih karena kualifikasi masing-masing. Selama individu memegang kantor-kantor mereka memiliki sejumlah kekuasaan tapi begitu mereka meninggalkan kantor rasional-hukum otoritas mereka hilang.
2.      Otoritas tradisional
Legitimasi dan kekuatan untuk kontrol diturunkan dari masa lalu dan kekuatan ini dapat dilaksanakan dengan cara yang cukup diktator. Hal ini bisa agama suci atau spiritual yang  pelan-pelan berubah budaya atau suku keluarga atau struktur marga jenis.
3.      Otoritas kharismatik
Otoritas karismatik ada ketika kontrol orang lain didasarkan pada karakteristik pribadi seseorang seperti keahlian etis heroik atau agama yang luar biasa. Pemimpin karismatik dipatuhi karena orang merasa ikatan emosional yang kuat kepada mereka (diunduh dari http://minyakoles.wordpress.com/2012/07/21/max-weber-tipologi-bentuk-otoritas-tradisional-rasional-legal-dan-karismatik/).
  •   Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan menurut Thoha dalam Sudarmiani (2009: 41) adalah: norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Gaya kepemimpinan mempengaruhi pola perilaku seorang pemimpin saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan, dan cara pemimpin bertindak dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya kepemimpinannya (Malawi, 2010: 55). Teori tentang gaya kepemimpinan ada tiga, yaitu:
1.      Teori sifat (the trait theories)
Menurut Sutisna dalam Sudarmiani (2009: 42) teori sifat menunjuk pada sifat-sifat tertentu, seperti kekuatan fisik atau keramahan yang esensial pada kepemimpinan yang efektif. Teori ini menyarankan beberapa syarat yang harus dimiliki pemimpin yaitu: kekuatan fisik dan susunan syaraf, penghayatan terhadap arah dan tujuan, antusiasme, keramah tamahan, integritas, keahlian teknis, kemampuan mengambil keputusan, intelegensi, ketrampilan memimpin, dan kepercayaan (Tead dalam Malawi, 2010: 56).
2.      Teori perilaku (the behaviour theories)
Teori ini memfokuskan dan mengidentifikasikan perilaku yang khas dari pemimpin dalam kegiatannya mempengaruhi orang lain (pengikut). Berdasarkan teori perilaku, macam-macam gaya kepemimpinan yaitu:
a.       Studi kepemimpinan universitas IOWA yang dilakukan oleh Ronald Lippit dan K. White menghasilkan tiga gaya kepemimpinan yaitu:
Ø Otoriter: kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh pimpinan
Ø Demokratis: kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh pimpinan dan bawahan secara bersama-sama
Ø Kebebasan: kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan diserahkan pada bawahan
b.      Studi OHIO
Ada empat gaya kepemimpinan berdasarkan pernyataan Hersey dan Blancard yaitu:
Ø Telling: banyak memberi perintah tetapi sedikit memberi semangat
Ø Selling: banyak memberi perintah dan semangat
Ø Participating: sedikit memberi perintah tetapi banyak memberi semangat
Ø Delegating: sedikit memberi perintah dan semangat

c.       Studi Michigan
Peneliti dari universitas Michigan menemukan dua macam gaya kepemimpinan yaitu:
Ø The job-centered: berpusat pada pekerjaan yang sangat memperhatikan produksi dan aspek-aspek teknik kerja
Ø The employee-centered: berpusat pada pegawai yang sangat menghargai pegawai, memperhatikan kesejahteraan, dan kesehatan pegawai.
d.      Manajerial grid (jaringan manajerial)
Penelitian ini dilakukan oleh Robert R. Blake dan James S. Mouton yang menyatakan ada dua macam gaya kepemimpinan yaitu:
Ø Concern for production: perhatian pada produksi yang menekankan pada mutu keputusan, prosedur, kualitas pelayanan staff, efisiensi kerja, dan jumlah pengeluaran.
Ø Concern for people: perhatian pada orang yang menekankan perhatian untuk karyawannya.
e.       Sistem kepemimpinan Likert
Likert mengembangkan teori kepemimpinan dua dimensi yaitu berorientasi tugas dan berorientasi individu. Emapat sistem kepemimpinan menurut Likert adalah:
Ø  Sistem 1: pemimpin sangat otokratis. Memiliki sedikit kepercayaan pada bawahannya dan suka mengeksploitasi bawahan. Pemimpin juga sering memberi hukuman.
Ø  Sistem 2: pemimpin otokratis yang baik hati. Pemimpin mendengae pendapat dari bawahan, memotivasi dengan hadiah dan hukuman, tetapi bawahan masih merasa tidak bebas membicarakan pekerjaan dengan atasan.
Ø  Sistem 3: pemimpin mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan. Pemimpin melakukan sedikit partisipasi sehingga bawahan merasa sedikit bebas membicarakan pekerjaan dengan atasan.
Ø  Sistem 4: pemimpin bergaya kelompok partisipatif. Pemimpin mempunyai kepercayaan yang sempurna terhadap bawahan, mempersilahkan bawahan untuk menyampaikan ide-ide inovasi sehingga bawahan merasa bebas membicarakan pekerjaan dengan atasan (http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/10/kepemimpinan-dalam-sekolah/).

3.      Teori Situasional
Teori ini menitikberatkan pada berbagai gaya kepemimpinan yang paling efektif diterapkan dalam situasi tertentu. Gaya kepemimpinan berdasarkan teori situasional adalah:
a.       Teori kepemimpinan kontingensi
Teori ini dikembangkan oleh Fiedler dan Chemers yang menyatakan bahwa seseorang yang menjadi pemimpin bukan hanya karena faktor kepribadian yang dimiliki, tetapi juga faktor situasi dan saling hubungan antara pemimpin dengan situasi. Ada dua gaya kepemimpinan menurut teori ini, yaitu:
Ø  Gaya kepemimpinan yang mengutamakan tugas
Ø  Gaya kepemimpinan yang mengutamakan hubungan kemanusiaan
Tiga faktor yang mempengaruhi gaya kepemimpinan yaitu:
˗          Hubungan antara pemimpin dengan anggota
˗          Variabel struktur tugas dalam situasi kerja. Tugas yang berstruktur adalah tugas yang memiliki prosedur berupa langkah-langkah untuk penyelesaian tugas itu telah tersedia.
˗          Variabel kekuasaan karena posisi pimpinan (Fattah, 2006: 96)
b.      Teori kepemimpinan tiga dimensi
Teori ini dikemukakan oleh Reddin yang merumuskan empat kelompok gaya dasar kepemimpinan yaitu:
Ø  Separated: pemisah
Ø  Dedicated: pengabdi
Ø  Related: penghubung
Ø  Integrated: terpadu
c.       Teori kepemimpinan situasional
Konsep kepemimpinan situasional pertama kali dirumuskan oleh Paul Hersey dan Kenneth Blancard yang merupakan pengembangan dari teori kepemimpinan tiga dimensi yang didasarkan pada hubungan antara tiga faktor yaitu peirlaku tugas, perilaku hubungan, dan kematangan. Gaya kepemimpinan berdasarkan teori ini yaitu:
Ø  Gaya mendikte (telling): diterapkan jika anak buah dalam tingkat kematangan rendah dan memerlukan petunjuk serta pengawasan yang jelas.
Ø  Gaya menjual (selling): diterapkan jika anak buah memiliki kemauan untuk melakukan tugas tapi belum didukung oleh kemampuan yang memadai.
Ø  Gaya melibatkan diri (participating): diterapkan jika anak buah memiliki kemampuan tetapi kurang percaya diri.
Ø  Gaya kendali bebas (delegating): diterapkan jika anak buah memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengerjakan tugas sehingga dapat diberikan tanggung jawab secara penuh.

D.    Peran Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin dan Manajer Pendidikan yang Efektif
Kepala Sekolah adalah pemimpin dan pengelola pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Kepala sekolah harus mampu menjadi manajer yang efisien dan pimpinan yang efektif.
Pidarta dalam Sudarmiani (2009: 56) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki peran dan tanggung jawab sebagai:
Ø  Manajer sekolah. Kepala sekolah harus mampu mengadakan prediksi masa depan sekolah, melakukan inovasi untuk kemajuan sekolah, menciptakan kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut, menyusun perencanaan yang baik, menemukan sumber dan fasilitas pendidikan, dan melakukan kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan
Ø  Pemimpin sekolah. Kepala sekolah harus mampu menggerakkan orang lain agar secara sadar dan sukarela melaksanakan kewajibannya secara baik sesuai dengan apa yang diharapkan pimpinan dalam mencapai tujuan
Ø  Administrator sekolah. Kepala sekolah harus mampu melakukan pengelolaan pengajaran, pengelolaan kepegawaian, pengelolaan kesiswaan, pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat
Ø  Supervisor sekolah. Kepala sekolah harus mampu memberikan layanan kepada guru-guru baik secara individual ataupun berkelompok untuk memperbaiki pengajaran.
Pidarta dalam Malawi (2010: 71) mengemukakan tiga macam keterampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk menyukseskan kepemimpinannya yaitu:
Ø  Keterampilan konseptual adalah keterampilan untuk memahami dan mengoperasikan organisasi
Ø  Keterampilan manusiawi adalah keterampilan untuk bekerjasama, memotivasi dan memimpin.
Ø  Keterampilan teknik adalah keterampilan dalam menggunakan pengetahuan metode, teknik, serta perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu

Selain itu kepala sekolah juga mengimplementasikan semboyan Ki Hajar Dewantoro yaitu ing ngarsa sung tuladha yang artinya didepan memberi contoh yang baik, ing madya mangun karsa yang artinya ditengah memberi semangat dan tut wuri handayani yang artinya dibelakang menciptakan prakarsa atau ide-ide kreatif.
Beberapa kunci sukses kepala sekolah untuk menjadi pemimpin dan manajer adalah:
Ø  Mempercayai staf pengajar
Ø  Mendelegasikan tugas dan wewenang. Kepala sekolah harus mendukung upaya pemecahan setiap masalah, tetapi tidak perlu memecahkan persoalan itu sendiri, karena dapat menyerahkan tugas itu kepada wakilnya.
Ø  Adiraga. Kepala sekolah harus kuat secara fisik untuk dapat menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai kepala sekolah.
Ø  Membagi dan memanfaatkan waktu
Ø  Tanpa toleransi atas ketidakmampuan. Kepala sekolah harus menetapkan standar-standar tertentu yang harus ditaati oleh Para stafnya.
Ø  Peduli dengan staf pengajar
Ø  Membangun visi
Ø  Mengembangkan tujuan instittusi
Ø  Cekatan dan tegas, sekaligus sabar
Ø  Berani instrospeksi
Ø  Memiliki konsistensi
Ø  Bersikap terbuka
Ø  Berjati diri tinggi (Danim, 2008: 87-94).



BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Pemimpin adalah orang yang mempunyai wewenang dalam pengambilan keputusan suatu organisasi. Kepemimpinan sebagai fungsi kelompok non individu, terjadi dalam interaksi dua orang atau lebih, dimana seseorang menggerakkan yang lain untuk berpikir dan berbuat sesuai yang diinginkan. Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lainnya dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan orang yang memimpin organisasi disebut manager.
Banyak gaya kepemimpinan yang dirumuskan dari hasil penelitian. Pada dasarnya untuk memilih gaya kepemimpinan dibutuhkan penyesuaian dengan situasi organisasi yang dipimpin. Selain itu, untuk menjadi pemimpin dan manajer yang sukses kepala sekolah perlu memperhatikan hal-hal berikut: Peduli dengan staf pengajar; Membangun visi; Mengembangkan tujuan instittusi; Cekatan dan tegas, sekaligus sabar; Berani instrospeksi; Memiliki konsistensi; Bersikap terbuka; Berjati diri tinggi dan sebagainya.

B.     Saran
Untuk menjadi seorang pemimpin dan manajer yang baik diperlukan pengetahuan tentang gaya kepemimpinan dan tugas-tugas sebagai pemimpin dan manajer. Seseorang dapat memilih gaya kepemimpinan yang sesuai dengan lingkungan organisasinya.





DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan dan Suparno. 2008. Manajemen Dan Kepemimpinan Transformasional Kekepalasekolahan. Jakarta: Rineka Cipta.
Fattah, Nanang. 2006. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Bandung.
Hikmat. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Malawi, Ibadullah (dkk). 2010. Profesi Kependidikan. Madiun: IKIP PGRI Madiun.
Nawawi, Hadari dan Martini Hadari. 2004. Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sudarmiani. 2009. Diktat Manajemen Pendidikan. Madiun: IKIP PGRI Madiun.
http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/10/kepemimpinan-dalam-sekolah/ diunduh tanggal 14 Oktober 2012 pukul 09.55 WIB
www.sarjanaku.com/2010/01/makalah-konsep-organisasi-administrasi.html diunduh tanggal 13 Oktober 2012 pukul 16.10 WIB.
             



2 komentar: